• Segera Dibuka PAUD TIDAR KOE - Ayo daftarkan putra-putri anda - Informasi lebih lanjut hubungi Tidar Bangka Belitung
  • Banner Tidar Bangka Belitung
    Published On: Tue, Apr 30th, 2013

    Selamat Jalan Ustad Uje

    “Subhanallah, Wal hamdulillah, Wala Ilahaillallah, Wallahu Akbar, Wala haula, Wala Quwwata Illa Billahil ‘Aliyil ‘Adziim”. 

    Kalimat tersebut merupakan penggalan pujian yang sering dilantunkan oleh Ustad Jefri Bukhari dalam setiap Tablig Akbar. Sekarang kita tidak akan mendengarkan pujian Ustad Uje (Panggilan akrab Ustad Jefri) lagi. Suara merdu yang sering terdengar kini berganti dengan suara tangisan dari istri, anak, keluarga dan jamaahnya. Kini dia telah meninggal dunia karena kecelakaan. Umat Islam kehilangan seorang pemuda yang mewakaf dirinya sebagai mubaligh (pengajak) kepada umat untuk selalu berbakti kepada Allah SWT.

    Banyak yang kaget atas kematian mendadak yang dialami Ustad Uje. Seakan kita tidak percaya. Uje bukanlah seorang ilmuwan yang telah melahirkan ratusan karya ilmiah, atau seorang pejabat yang mengendalikan kekuasaan, atau juga seorang konglomerat yang mempunyai ribuan karyawan. Ia sering bercerita tentang masa mudanya yang penuh dengan masa-masa kelam. Berbagai perbuatan keji layaknya anak-anak muda seperti mabuk-mabukan pernah ia lakukan. Artinya, Ia ingin menunjukan bahwa dirinya mempunyai potensi sama seperti orang lain, yaitu tidak terlepas dari suatu kesalahan. Namun yang perlu dikagumi pada dirinya, yaitu kemampuan bangkit dan bertobat untuk tidak melakukan perbuatan keji tersebut. Justru hal ini bisa menjadi titik balik perubahan secara radikal untuk bertobat menjadi manusia yang mencintai Tuhan. Dan kecintaan ini dibuktikan menjadi seorang pendakwah yang terkenal di Tanah Air.

    Dari segi umur Ustad Uje lebih tua dari saya, selisih dua tahun. Namun saya harus mengakui bahwa Ustad Uje sudah menjadi milik umat (sedangkan saya masih bagian dari umat, yang sampai sekarang pun masih sangat mualaf dalam hal dakwah). Dia telah memberi manfaat kepada umat. Dari Sabang sampai Merauke umat merindukan-nya untuk bertausiah dan mendengarkan ceramahnya. Terlepas dari sebutan yang kurang afdol yaitu Ustadz Gaul atau Ustadz Selebritis (kedua istilah yang sering tidak pas untuk jabatan seorang ustad),dia tidak memperdulikan hal tersebut. Ustad muda tetap membuktikan perjuangan dakwahnya dan bisa dirasakan oleh masyarakat luas.

    Kematian Uje bisa menjadi muhasabah (interopeksi diri), antara lain: Pertama, membiasakan untuk bersikap khusnudzon (baik sangka) kepada setiap orang merupakan cara yang efektif untuk mengenang kebaikannya. Kematian merupakan puncak dari kemuliaan seseorang. Maka hal yang wajar para tokoh seperti Soekarno, Soeharto, Gus Dur, atau KH. Zainuddin MZ selalu dikenang kebaikannya dengan tulus ketika telah mengalami kematian —walaupun sebenarnya banyak juga kesalahannya. Sikap khusnudzon (baik sangka) seharusnya juga dikembangkan umat Islam ketika masih hidup. Perbedaan metodologi memperkenalkan Islam tidak malah menimbulkan saling curiga di antara sesama umat Islam. Seharusnya ini menjadi khasanah kekayaan metodologi dakwah yang bisa ditempuh dari berbagai jalan (tariqah). Dengan demikian, perbedaan menjadi sinergi dan bermanfaat.

    Kedua, kematian Ustad Uje telah menggugah umat Islam untuk berkarya. Kehidupan tidak diukur oleh kuantitas usia, tetapi oleh kualitasnya. Hal ini telah dibuktikan Ustad Uje yang usia masih berumur 40 tahun, tapi dia telah mempersembahkan puncak kualitas hidupnya. Maka memahami suatu kematian seharusnya persiapan yang serius untuk bekal menempuh kehidupan yang panjang (akhirat). Pendeknya waktu di dunia tidak memberikan peluang untuk bersantai-santai, tapi justru untuk berkarya dan memberi manfaat bagi umat manusia. Ketiga, kematian Ustad Uje menjadi terapi hati dan senam akal bagi para pelaku maksiat baik oleh rakyat biasa atau para pejabat.

    Begitu juga kedengkian di hati umat Islam karena disebabkan terjadi perbedaan ideologi, baju atau organisasi tidak perlu lagi terjadi. Peristiwa kematian Ustad Uje harus menjadi renungan untuk kembali lagi pada jati diri manusia menjadi umatan wahidan (umat yang satu). Sehingga tidak ada lagi dendam di antara umat Islam, yang sebenarnya merugikan diri sendiri.

    Ketiga bentuk muhasabah ini mudah ditulis dan sulit dilaksanakan. Memang benar, kekuatan manusia bukan pada ototnya, tapi pada hati dan akalnya. Ketika keduanya mampu menahkodai nafsu yang ada pada diri manusia, menjadi nafsu mutmainah, maka hal tersebut mudah dilaksanakan. Jadi, seberat apapun nafsu tersebut harus perlu dilawan agar di kemudian hari (akhirat) kita dicatat oleh Allah sebagai hamba-hamba yang saleh.

    Kepada Ustad Jefri Bukhari, saya hanya bisa berdoa, semoga Tuhan menempatkan di tempat yang terhormat dan mencatat amalnya sebagai amal saleh. Saya berprasangka baik saja, kematiannya pada usia muda ini mengandung rahasia yaitu agar intan amal saleh tidak dinodai oleh umur di masa-masa datang yang jelas penuh dengan cobaan dan fitnah. Sebelum datang fitnah begitu banyak, maka Tuhan mengambil kekasihnya. Jadi, kematian ternyata jalan terbaik bagi Uje untuk berjumpa dengan kekasihnya, yaitu Allah SWT dan Rasul-Nya. Innalillahi Wa Inna Ilai Raji’uun.

    Imam Ghozali
    Mahasiswa Program Doktoral UIN Suska Riau

    sumber: Riau Pos

    Written by:

    - who has written 80 posts on Tidar Bangka Belitung.

    Tidar Bangka Belitung Lembaga Non Formal Tertua di Pangkalpinang Sejak 1976

    .

    Imam Mardi Nugroho“Setelah bergabung di TIDAR saya merasakan manfaatnya. Selain itu Bahasa Inggris sangat penting untuk Komunikasi, Pariwisata, Investasi dan Pengembangan Provinsi Bangka Belitung. Terimakasih untuk TIDAR yang telah mendukung tujuan ini…”
    Imam Mardi NugrohoTokoh Masyarakat